<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d16873587\x26blogName\x3d%5EMifan+iSland%5E\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLACK\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://mifankah.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://mifankah.blogspot.com/\x26vt\x3d-7119516514876633574', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

flickr

DiLanDa ...

Sunday, December 31, 2006

Petang yang dingin sehabis hujan turun sore hari. Saat kali pertama melihat, aku terkesima dengan penampilannya. Betapa anggun Puan berparas manis ini mengenakan jilbab. Benar benar wanita muslimah ‘gumamku dalam hati’.

Sungguh ini yang namanya jilbab. Ga’ kayak kebanyakan oknum cewek yang mengenakan kudung gaul yang mengaku itulah jilbab, ironi memang. Ga’ sadar yang mereka kenakan masih juga mempertontonkan lekuk tubuh dengan jelas. ~Naudzubillah.

Kisi kisi . . >
Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiallohu Anhu, Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Dua (jenis manusia) dari ahli neraka yang aku belum melihatnya sekarang yaitu; kaum yang membawa cemeti-cemeti seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, berjalan berlenggak lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga bahkan tidak akan mendapat wanginya, dan sungguh wangi surga itu telah tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.’ (H.R. Muslim, 3/1680). ~renungan.

Beberapa puluh menit berlalu. Ketika duduk bersebelahan bangku panjang di warung tenda kosong, akhirnya sempat juga ngobrol sebentar sama dia. Malahan kalo diprosentase aku lebih banyak ngobrol ke temennya. ~gimana sich! Sebenernya pengen banget kenal dia. Tapi apa daya, tarik ulur pun terjadi dalam hati. Kenalan ga’ ya… ah nanti aja tunggu timing yang tepat, ~payah. Akhirnya temenku ‘si raja kecrok’ datang dan . . niat tuk berkenalan dengan dia kukubur dalam dalam. Hingga acara surprise ulth buat bla3 temenku ‘si tuigi’ berlalu.

Malam semakin membisu. Sunyi senyap. Hanya lantunan kidung memetik keheningan. Hembusan kipas angin sejukkan kamarku. Aku pun tidur dengan bejibun keinginan. Ta’aruf. Tentu saja aku ingin berkenalan dan mengenalnya. Have nice sweet dreams 2 me . . .

02.00 AM Kamis, 14 Desember 2006

Author: Mif . » Comments:

TomHari ?

Sunday, December 24, 2006

Pelukis Bulu Pertama Indonesia. Seniman Jenius Penuh Kreasi. Bersahaja. Brilian Dalam Mekanisasi Teknologi.

Bagi masyarakat Solo, nama Tomhari saya yakin sudah familiar terdengar. Dibalik kesederhanaannya, beberapa kali kakek berusia 70 tahun ini telah terdaftar dalam museum rekor MURI dan pernah menjadi langganan AENG AENG atas kreatifitasnya. Di tahun 2000 saja, ia telah masuk rekor MURI berkat desain satu jas dengan 24 model. Unik memang, padahal ia seorang seniman yang pada umumnya fokus berkarya dalam kanvas ataupun goresan-goresan warna media dan lain sebagainya. Namun dengan ketekunan, ia mampu menjahit pakaian untuk pertama kali dengan rapi layaknya penjahit profesional.

Dua tahun Kemudian, MURI membukukan rekor Tomhari berupa desain celana dengan 14 tampilan, juga dijahitnya sendiri. Kakek yang masih kelihatan prima ini berharap rekor-rekor baru akan terealisasi nanti. Baginya, berkarya dan kreatifitas merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dalam hidup. Bukan hanya itu, ide bisa muncul dari mana saja. Cobalah Anda datang ke rumah Tomhari yang terasa bersahaja namun unik di Kepunton RT 08 RW 03 Jebres Surakarta, tentu akan disambut hangat oleh beliau yang antusias mengisahkan pengalaman hidupnya. Dan jangan lupa untuk membubuhkan tanda tangan di buku tamunya yang kemungkinan lebih tua dari usia Anda. ?

Putra bungsu dari 4 bersaudara ini ketika umur 6 tahun telah yatim piatu. Beliau bercerita, semenjak kecil sudah mempunyai bakat menggambar bawaan dari sang ayah. Disamping itu, Tomhari kecil juga sangat menyukai sesuatu yang unik lain dari teman-teman sepermainannya. Corat-coret alias menggambar tembok rumah memakai arang maupun kapur menjadi bagian dari hobinya. Sampai-sampai ada tetangga yang tertarik, meminta untuk mencorat-coret di tembok rumahnya. Ketika masih duduk di SD Jebres, Tomhari kecil sering menjadi juara I dalam lomba lukis yang diikutinya.

Bakat musik pun tak kalah. Sewaktu patroli Belanda lewat (agresi militer Belanda II tahun 1948), ia diacungi jempol oleh serdadu-serdadu NICA saat memainkan harmonika melantunkan lagu ‘five minutes more’.

Selain seni, Tomhari juga brilian dalam bidang mekanisasi teknologi. Ia telah mampu mendesain rumah semi otomatis hingga dikenal dengan rumah hantu dan menjadi berita di tahun 50-an. (tahu sendiri kan, waktu itu masih jadul banget). Salah satu hasil ciptaan Tomhari berupa penyambung rel peredam suara kereta api yang telah direspon oleh pihak PJKA di tahun 1977. Ia juga telah mengajukan beberapa proposal antara lain tentang mekanisasi pencegahan dini pembajakan pesawat udara, sistem antisipasi musibah kecelakaan kereta api metode I tahun 1981 (diekspos dan diakui rasional oleh Gatot Soejantoko) dan metode II tahun 1992 (baru tahun 2000 diekspos di Binaloka Yogyakarta dan diakui rasional oleh KADAOP VI, Ir. Yuda Sitepu). Namun sayangnya belum mampu diaplikasikan hingga saat ini, mengingat keadaan negara kita.

Tomhari juga telah mendesain detektor pencurian kawat telepon (diakui rasional oleh Menparpostel), mendesain mekanisasi Solokopter atau Hely Propeler tumpuk yaitu helikopter dengan dua buah baling-baling tumpuk yang berlawanan arah putarannya, dan yang terbaru berupa kendaraan tanpa bahan bakar hanya memanfaatkan kincir tenaga angin (lebih optimal bila diterapkan pada kapal laut).

Tohari adalah nama aslinya. Dulu semasih muda, di Kepunton nama Tohari ada tiga orang. Dengan alasan, orang yang akan bertamu ke rumahnya sering nyasar ke Tohari lain. Tohari ini kemudian merubah namanya menjadi Tomhari. Menurutnya, keunikan muncul dari nama ini karena Tom dan Hari dalam kosakata bahasa Inggris keduanya merupakan nama depan. .

Tomhari sangat dikenal sebagai pelukis bulu pertama. Awal mula menciptakan mozaik bulu setelah ia menjuarai lomba lukis antar sekolah lanjutan se-kodya Surakarta. Dari situlah Tomhari muda mulai ditawari ikut serta dalam pameran di Balai Pradjurit. Karena ia belum mempunyai cat warna dalam membuat karya yang akan diikutsertakan, maka timbul ide. Ide spontan muncul seketika saat sedang mengamati ayam-ayam di halaman rumah. Kemudian Tomhari mulai mengambil sula bulu ayam dan dipotong dipilah-pilah sesuai dengan warna yang diinginkan. Bulu-bulu ayam ia susun menjadi suatu objek lukisan. Inilah mozaik bulu pertama Tomhari. Judulnya ‘Ibu Menyusui’, menampilkan karakter wanita Indian.

Banyak diantara lukisan mozaik bulu Tomhari telah melawat ke lima benua, berbeda dengan sang pelukis yang masih berdomisili di Solo. Pada tahun 1959 Tomhari menciptakan lukisan dualis berupa gadis berpayung jika dilihat dari jarak jauh terlihat seperti tengkorak. Lima tahun kemudian, ia menciptakan lukisan sirkelis yang dipamerkan di Wisma Nusantara Jakarta, telah dikoleksi oleh Madame Seuku Ture dari Guenea. Lukisan kridarama (objek lukisan bergerak) berupa petani-petani perempuan yang sedang menumbuk padi menjadi media karya lukisan selanjutnya sebelas tahun kemudian.

Tomhari muda juga pernah bertemu dan semeja makan dengan Presiden Soekarno di Gedung Agung Yogyakarta. Ketika itu, Tomhari memberi kenang-kenangan berupa lukisan mozaik bulu potret Presiden Soekarno. Bagi Tomhari, sebuah prestasi dan kebanggaan yang sebelumnya hanya sebuah mimpi. Dari bapak bangsa ini ia mendapat kata-kata pesan, ‘Pupuklah bakatmu, berbuatlah yang terbaik bagi nusa dan bangsamu’. ~Mif

Author: Mif . » Comments: